aku tiada, maka Aku ada.
Showing posts with label Yin Yang. Show all posts
Showing posts with label Yin Yang. Show all posts
Bukankah manusia diciptakan sebagai makhluk yang bermanfaat bagi semesta dan isinya?
Harusnya semua manusia menyadarinya, tapi Tuhan Maha Asyik, membiarkan beberapa manusia melakoni peran masing-masing, sebagai contoh.
Selamat dini hari, semoga bermanfaat 🙏🏻
Ingat masa kecil ketika kita sibuk menanyakan semua hal baru dan yang kita anggap menakjubkan kepada orangtua kita?
Kita bahkan tidak tahu batasan, apa yang bisa dilakukan makhluk seperti kita, ketika kita melihat Superman, kita menganggap kita juga bisa seperti Superman dengan kemampuan-kemampuannya.
Dan kita selalu ingin tahu, bahkan hal jorok seperti bagaimana rasa upil.
Tapi dewasa ini semakin banyak didoktrin sikap _"pada umumnya"_, kita semakin membatasi diri, berakhir dengan ejekan lebay atau semacamnya, hingga tidak lagi takjub dan sibuk bertanya bahkan pada diri sendiri.
Padahal modal untuk pintar itu hanya satu yaitu selalu ingin tahu.
Tidakkah menyenangkan ketika apa yang disukai dengan bebasnya kau lakukan,
Menulis, bervespa kemana saja, minum kopi di manapun, mengambil foto landscape, membaca buku.
Tidakkah rasa sesal kau rasa ketika menunda bertahun-tahun untuk melakukannya?
Aku?
Iya, aku merasa bodoh karena mengharapkan hal yang tidak pasti, aku merasa bodoh dibatasi orang lain yang sebenarnya tidak mengerti apa arti bahagia menurutku,
Bukankah harusnya saling mengerti?
Bukankah harusnya saling mendukung?
Aku sudah kembali ke "habitatku"
Aku tidak akan mengulang kebodohan yang sama,
Tapi aku tidak menyalahkan siapapun, aku yang salah, tidak mau mengambil resiko hanya untuk kenyamanan sementara.
Aku menulisnya bukan untuk menyudutkan seseorang, aku menulisnya untuk berbagi.
Mungkin Tuhan menunjukkan padaku bagaimana cara menikmati hidupku sendiri dengan caraku sendiri.
Mungkin juga Tuhan memberiku jalan cerita seperti ini untuk percontohan layaknya cerita setan menggoda seorang raja untuk Sholat di dalam buku 1001 malam.
Kamu tahu maksud sebenarnya dari "Cinta tak harus memiliki" atau "Jika kamu bahagia aku pun bahagia" atau bagimu itu hanya kalimat penghias relationship saja? Atau bahkan hanya kamu anggap kalimat gombalan saja.
.
Jika iya IQ mu terlalu jongkok untuk memahami kalimat yang sebenarnya sangat sederhana sekali dan sebenarnya tidak terlalu tulus.
.
Karena didalam aku dan kamu ada Tuhan,
Jadi jika kamu bahagia dengan pacarmu aku lebih bahagia, karena aku juga bagian dari kamu dan pacarmu, jadi kenapa aku harus merebutmu dari pacarmu, aku sudah merasa bahagia jika kamu bahagia.
Lama pena ini tak ditorehkan,
Sejak masa transisi itu,
Kini aku mulai menikmati dinamika ini,
Dinamika kehidupan yang Tuhan berikan.
Sangat asyik ketika sudah mencapai tahap ini,
Dulu aku anggap cobaan,
Sekarang aku anggap hiburan dan percikan kasih sayang Tuhan,
Dulu indahnya alam aku anggap kemegahan,
Kini aku anggap cuilan surga yang Tuhan berikan pada semua umat.
Mata pena tak lagi berkarat,
Torehan darah pun tak lagi ada,
Hanya tinta warna emas yang dihasilkan,
Namun koleksi tinta ini belum cukup untuk pencapaian berikutnya,
Dan masih tidur dengan satu mata membuta.
Rahvana, Raja Fir'aun, Syech Siti Jenar, Hitler, Iblis, Setan Tokoh "antagonis"? Neraka?
Mereka ibarat display dalam etalase di pasar yang riuh rendah, jika seseorang tertarik akan melihat detailnya lalu mempelajari dan bertanya kepada penjual, jika tidak tertarik hanya berakhir "hiasan" perjalanan dalam pasar yang riuh rendah.
Cermin dengan cerminan komentar mulut sendiri.
Di Indonesia, isu SARA -- bukan Sex Anatomi Rai
-- selalu 'sexy' untuk diperdebatkan. Misalnya,
akhir-akhir ini masalah topi santa, bando tanduk
rusa kutub, dan ucapan "Selamat Natal." menjadi
tren. Alih-alih membuat kita paham, tema
tersebut malah membuat kita semakin bingung
dan -- tak jarang -- menimbulkan perpecahan di
antara masyarakat. Minimal, saling menampilkan
muka terlipat ketika bertemu. Toleransi di negeri
sering hanya menjadi tema dalam pelajaran di
sekolah. Padahal tema toleransi ini sudah diatur
dengan baik dalam ayat-ayat kitab suci, jauh
sebelum adanya ayat-ayat konstitusi di negeri ini.
Cukup cantik, bukan yang disampaikan dalam Al-
Quran dalam Surah Al-Kafirun ini:
aku tidak akan menyembah apa yang kamu
sembah (QS. 109:2)
Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku
sembah (QS. 109:3)
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah
apa yang kamu sembah (QS. 109:4)
dan kamu tidak pernah (pula) menjadi
penyembah Ilah yang aku sembah (QS.
109:5)
Untukmulah agamamu, dan untukkulah
agamaku (QS. 109:6)
Pada masa kanak-kanak, saya tinggal di desa
yang sangat plural. Kami tinggal secara
berdampingan dengan pemeluk agama lain dan
anggota suku lain. Tidak ada masalah, keluarga
besar saya pun terdiri dari beberapa suku dan
agama. Tetangga depan rumah saya pada waktu
itu adalah seorang pemuka agama Kristen.
Hampir setiap malam, kami berbincang di depan
rumah. Maklum, pada waktu itu belum banyak
yang memiliki TV. Berbincang dengan tetangga
seperti sebuah hiburan bagi kami. Bagi kami yang
tinggal di desa, tetangga sudah seperti saudara.
Bahkan saya sering tidur di rumah beliau.
Biasanya, saya dipanggil untuk diajak makan
karena keluarganya hobi sekali memasak. Setelah
makan, masih dilanjutkan dengan bermain
bersama anak keduanya dan akhirnya tidur di
sana. Meskipun hubungan kami sangat erat,
beliau tidak pernah mengucapkan selamat ketika
'Iedul Fitri atau Adha. Begitu pula kami, tidak
pernah mengucapkan selamat ketika Hari Raya
Natal. Malah kami mendatangi beliau, ketika
'Iedul Fitri bukan pada perayaan Natal. Kebetulan
bapak dan ibu jauh lebih muda daripada Pak
Pendeta. Pada Hari Raya Natal, rumah beliau
selalu ramai karena perayaan dilakukan di sana
bukan di gereja yang halamannya sempit. Kami
tidak diundang dan kamipun juga tidak ada
inisiatif datang. Namun, hubungan dan
kebersamaan tetap terjaga dengan baik. Beliau
selalu yang pertama mengucapkan selamat ketika
saya memperoleh prestasi tertentu, baik di tingkat
sekolah maupun nasional. Dengan bangganya, hal
itu diceritakan kepada kolega-koleganya di Kantor
Depdikbud. Di lain pihak, bapak juga selalu
membantu ketika Pak Pendeta itu memperbaiki
rumah, mempersiapkan resepsi pernikahan
anaknya, dsb. Bagi keluarga kami beliau juga
sangat berjasa karena telah menyemangati ibu
untuk memperdalam keterampilan menjahit,
sehingga bisa menunjang ekonomi keluarga. Saya
masih ingat, beliau merelakan kain baju dinasnya
untuk dijahit oleh ibu. Hasilnya di luar dugaan,
kacau! Namun, beliau memuji dan memakainya
untuk berdinas di Kantor Depdikbud. Sejak saat
itu, ibu termotivasi untuk lebih menguasai
keterampilan menjahit. Beliau sudah tiada, tetapi
kami masih mengingatnya.
Sekarang tetangga bapak dan ibu adalah seorang
guru agama Katholik dan pemeluk agama Hindu.
Sama dengan dengan Pak Pendeta tadi, tidak
pernah sekalipun kami saling mengucapkan
selamat hari raya. Apakah hubungan kami buruk?
Justru sebaliknya! Sebelum mempunyai sepeda
motor sendiri, bapak selalu memakai sepeda
motor Pak Guru Agama Katholik itu kemanapun
dibutukan karena memang beliau memiliki
sejumlah motor yang tidak terpakai. Kadang-
kadang saya juga meminjamnya untuk
mengunjungi sanak saudara di desa sebelah.
Beliau juga sering membantu kami, ketika kami
kesulitan. Sebaliknya, bapak juga membantu
ketika beliau mengalami kesulitan. Bahkan ibu
sering memasak untuk beliau karena tinggal
sendirian di rumah. Isterinya telah meninggal,
anak-anaknya di luar kota semua. Sama halnya
dengan tetangga yang beragama Hindu, mereka
sering membantu keluarga kami dalam berbagai
urusan. Para tetangga tersebut sudah seperti
saudara yang selalu ada kapanpun kami
menghadapi kesulitan.
Kebetulan kerabat bapak banyak yang beragama
Kristen. Kami juga tidak pernah menghadapi
masalah karena hal itu. Kami tidak pernah saling
mengucapkan selamat pada perayaan hari raya
agama masing-masing. Kami saling berkunjung
ketika 'Iedul Fitri karena sudah menjadi semacam
tradisi, saling bermaafan tanpa mengucapkan
"Selamat merayakan 'Iedul Fitri.". Tidak
sekalipun. Kami menyadari bahwa saling
menghormati, menghargai, dan bertoleransi bukan
dengan mencampuradukkan urusan agama.
Bukankah aneh, ketika muslim atau muslimah
memakai topi santa atau bando tanduk rusa
untuk menyambut dan merayakan Natal.
Bayangkan kalau pada bulan Ramadhan, yang
nonmuslim memakai jilbab atau gamis plus sirwal
plus peci. Aneh, bukan? Urusan aqidah adalah
urusan masing-masing yang harus dijaga. Biarkan
muslim dengan aqidahnya dan biarkan nonmuslim
dengan keyakinannya. Mudah dan indah, bukan?
Dalam Islam tidak berlaku pluralisme. Namun,
Islam menghormati dan menjamin pluralitas.
Dalam hal ini, agama adalah pilihan tentang
kebenaran. Bagi muslim, hanya Islam yang benar.
Bagi nonmuslim, hanya agamanya yang benar.
Kaidah ini bukanlah justifikasi untuk menyalah-
nyalahkan agama lain, apalagi menghina agama
lain. Penghinaan terhadap agama lain hukumnya
haram, menurut Rasulullah saw. Hal ini patut
digarisbawahi. Sebaliknya, mengakui kebenaran
agama lain hukumnya juga haram. Menurut para
ulama, mengucapkan selamat atas hari raya
agama lain minimal dihukumi sebagai kufur qauli,
pengingkaran terhadap aqidah dalam bentuk kata-
kata. Kalau mengucapkan dengan membenarkan,
berarti telah jatuh ke dalam kufur i'tiqadi,
pengingkaran terhadap aqidah yang sejati. Bisa
jadi ada yang tidak sependapat dengan
pandangan saya ini. Saya tidak
mempermasalahkan dan tidak akan memaksakan
apa yang saya yakini kepada orang lain. Haram
kekerasan dalam hal ini, meskipun 'hanya' berupa
kekerasan verbal. Semoga kita diberkahi dengan
kedamaian, kasih sayang, dan saling
menghormati.
Sumber : [9:40pm, 12/25/2014] "Schatzy": https://m.facebook.com/notes/deddy-rizqa/toleransi-bukan-telor-asin/310724569126277/?_rdr#310826455782755
[9:45pm, 12/25/2014] "Schatzy": Pak deddy iku seng nulia
Antara Mengeluh dan Sabar.
Antara Mencaci dan Ikhlas.
Antara Hitam dan Putih.
Antara Hati dan Membusuk.
indah itu bukan mudah,
indah itu juga bukan hasil.
indah itu sukarnya proses,
indah itu berfikir!
dengan atau tidak.
bahkan hingga mata tertanam tenggelam.
otak terlilit daftar harga, bagai nyamuk
dan laba-laba disudut kamar.
riang sang keyboard digital.
menggelitik mengejangkan nafsu beradu
antara atas dan bawah,
kiri dan kanan,
depan dan belakang.
serta, menahan biji murka dalam lintingan
kertas, tembakau dan cengkeh.
seteguk limpahan malam.
tersedu berhiaskan busa layak limbah
pemukiman warga.
ooh indahnya dunia tercipta.
pemuja berhala-berhala perangkat negara,
beradu dalam modus masa depan yang
"mungkin".
sementara didepan mata banyak
terbelenggu, terlilit, terbakar, terpaksa,
tercekik seperti barang display dalam
etalase terkebiri matahari.
Seperti telaga dan gurun.
Seperti bumi dan langit.
Sungai dan parit.
Gunung dan bukit.
Kesetimpangan cepat terbangun seperti
deretan ruko bibir sungaiku.
# KopiDiniHari
Wed
Hei ingat dia sisi gelapmu,
cara mengingatkannya pasti beda dengan sisi
terangmu,
pasti berbeda karena dia dan aku dalam satu lingkaran yang
berputar sampai akhir hayatmu.jangan ciptakan kesan baik jika kamu tak mau dituntut untuk selalu jadi baik,
jangan ciptakan kesan buruk jika kamu tak mau dicap buruk.
terbuka bukan berarti ceplas ceplos,
terbuka pikiran,
biar bisa ikut berpartisipasi dalam ritual kopi pahit berbibir panjang berjam-jam..
terbuka pikiran,
biar bisa ikut berpartisipasi dalam ritual kopi pahit berbibir panjang berjam-jam..
hey kasian mereka,
nggak bisa menikmati keindahan dalam kegelapan,
bukankah hidup cuma sekali, kenapa nggak dinikmati
Ketika ilmu tak lagi dikupas bagai sirsat titelan bulat bulat.
Putih dalam lorong gelap dan panjang bagai emas dalam buah durian tanpa belahan
Putih dalam lorong gelap dan panjang bagai emas dalam buah durian tanpa belahan
Bertanya bukan haus tanda tanya..
Menjelaskan bukan menggurui..
Menyimpulkan bukan balik bertanya..
Menerangkan bukan termakan emosi..
Disaat gelap bintang terlihat lebih terang nan indah..
Disaat terang dan bersih noda hitam terlihat lebih mengganggu..
Indah dalam gelap.
Bukan punya sayap.
Tapi menerima yang ada.
Bukan melihat dan tertawa.
About Me
Tulisan Populer
-
Seterusnya, bilangan 21 hingga 29 dalam bahasa Jawa juga dinamakan berbeda dengan pola umum yang ada. Dalam bahasa lain biasanya sesuai p...
-
Lemparkan biji di halaman Kelak akan menjadi 'Barang' Menadahkan tangan di jalanan Kelak akan menjadi 'Uang' Pasang tampang ...
-
Biarkan saja pelangi - pelangi itu, meraka sangat setia menunggu matahari, meskipun mereka sirna ketika matahari muncul sempurna. Atau tu...
-
Setidaknya setiap sudut ketidakmungkinan beberapa persen telah terkikis. Hingga setiap ujung kata bertemu dengan Insyaalloh. Walau sebenar...
-
Keseimbangan = hampir menuju kesempurnaan... karena.. Terlalu pinter banyak yang manfaatin... Terlalu goblok gampang dibodohin... Terlalu di...
-
Biasanya ketika aku memunculkan gagasan baru aku ingin mendengar komentarmu, tapi kali ini aku tidak ingin mendengar komentarmu, karena aku ...
-
Memang sendiri itu perlu. Bahkan riuh berisik pun terasa sendiri. Diam dan berkontemplasi sedalam palung. Ya, melelahkan! Karena terbiasa...
-
Lama pena ini tak ditorehkan, Sejak masa transisi itu, Kini aku mulai menikmati dinamika ini, Dinamika kehidupan yang Tuhan berikan. San...
-
Setidaknya sudut ketidakmungkinan beberapa persen telah terkikis, dan mata pena tidak lagi berkarat, Senja kala itu bertabur bunga mengiri...
-
Yaa dan beberapa sisi lain baik terlewatkan. Beberapa sisi lain buruk selalu tertutup rapih. Terungkap setelah berlalu dan hampir tenggela...
